KEBENARAN ILMU, FILSAFAT DAN AGAMA

Mulyo Wiharto

Sari


Kebenaran ilmu pengetahuan tidak bersifat absolut. Kebenaran ilmu pengetahuan dapat diterima selama tidak ada fakta yang menolak kebenarannya. Kebenaran ilmu pengetahuan bersifat pragmatis. Ilmu pengetahuan dipandang benar dan dianggap sebagai pengetahuan yang sahih sepanjang tidak ditolak kebenarannya dan bermanfaat bagi manusia. Ilmu pengetahuan juga tidak selalu memberikan jawaban yang memuaskan terhadap masalah-masalah manusia. Ilmu pengetahuan mempunyai berbagai keterbatasan dan keterbatasan inilah yang memerlukan bantuan filsafat dalam memberikan jawaban. Kebenaran filsafat diperoleh dengan melakukan perenungan kefilsafatan dan bersumber dari rasio sehingga menghasilkan kebenaran yang bersifat subyektif dan solipsistik, sehingga tidak mampu memberikan jawaban yang memuaskan semua pihak. Untuk permasalahan-permasalahan tertentu filsafat juga tidak dapat memberikan jawaban yang memuaskan, maka manusia mencari jawaban yang pasti dengan berpaling kepada agama. Kebenaran agama bersifat mutlak karena berasal dari sesuatu yang mutlak dan memberi penyelesaian yang memuaskan bagi banyak pihak. Agama memberi kepastian yang mantap terhadap suatu bentuk kebenaran karena kebenaran agama didasarkan pada suatu kepercayaan. Agama mengandung sistem credo atau tata kepercayaan tentang sesuatu yang mutlak di luar manusia.
Kata kunci : Kebenaran, keterbatasan, ilmu pengetahuan,
filsafat, agama


Teks Lengkap: PDF

Refbacks

  • Saat ini tidak ada refbacks.