ENAM WATAK MANUSIA INDONESIADALAM PERSPEKTIF BELA NEGARA, KONFLIK SOSIAL DANPEMBANGUNAN MASYARAKAT

Syamsu Ridhuan

Abstract


Abstract

Some Indonesian prefer to be called democratic, reformist and religious. The facts often appear inconsistent, unbearable and not in accordance with the norm of Pancasila. The purpose of the study tested the theory of Muchtar Lubis forty years ago about six human characters of Indonesia : hypocritical, reluctant to be responsible for his action, feudal, believing in superstition, arstistic and weak character, is still relevant to today’s living conditions. Research design using ethnographic approach, to examine the deep perceptions, attitudes, cultures, beliefs and norms of Indonesian people. Location in Taman Mini Indonesia Indah (TMII), sample 33 provincial pavilion communities representating ethnicity, plus ethnic Betawi and four ethnic offspring : Tionghoa, Arab, Indian and Eurpean settlers in DKI Jakarta region. The result of research reinforce the theory of Muchtar Lubis, it turns out six human characters of Indonesia is still relevan to the dynamics of social, cultural, political, economic and ideological. (1) Humans hypocritical, reluctant to be responsible for his actions, weak character, and feudal spirit not sincerely depend the state, artistic human being sincere, while the superstitious believers are only half sincere state depenses. (2) Hypocritical and reluctant to be responsible for his actions, like social conflicts, human belieces superstition, artistic and weak character disagrees social conflict, half of the feudal minded people agree to social conflict. (3) Hypocritical, reluctant to be responsible for his actions and believes superstition dislike community development, should be artistic people, weak character and feudal minded nature a gree the development of society to make a smart, decent and happy income.

 

Keywords : hypocritical, character,feudal.

 

Abstrak

Sebagianmanusia Indonesia lebih suka disebut demokratis, reformis dan agamis. Fakta sering terlihat penampakan tidak konsisten, tidak amanah dan tidak sesuai dengan norma Pancasila. Tujuan penelitian menguji teori Mochtar Lubis empat puluh tahun lalu tentang enam watak manusia Indonesia :munafik, enggan bertanggung jawab atas perbuatan, percaya tahyul, berjiwa feodal, artisitik dan berkarakter lemah.Apakah masih relevan dengan kondisi kehidupan masa kini.Desain penelitian kualitatif menggunakanpendekatan etnografi. Guna mengkaji mendalam persepsi, sikap, budaya, keyakinan dannorma manusia Indonesia.Lokasipenelitian di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), sampel33 komunitas anjungan provinsi mewakili etnis, ditambah etnis Betawi dan empat etnis keturunan: Tionghoa, Arab, India dan Eropa yang bermukimdi wilayah DKI.Hasil penelitian memperkuat teori Mochtar Lubis. Ternyata Enam watak manusia Indonesia masih relevan dengan dinamika sosial, budaya, politik, ekonomi dan ideologi.(1) Manusia munafik, enggan bertanggung jawab atas perbuatan, berwatak lemah dan berjiwa feodal tidak ikhlas bela negara, yang artistik ikhlas bela negara, dan yang percaya tahayul separuhikhlas bela negara. (2) Manusia munafik dan enggan bertanggung jawab atas perbuatan, sukakonflik social,yang percaya tahayul, artisitik dan berwatak lemah tidak setuju konflik sosial,yang berjiwa feodal separuh setuju konflik sosial. (3) Manusia munafik, enggan bertanggung jawab atas perbuatan danpercaya takhayul tidak suka pembangunan masyarakat. Sebaliknya manusia artisitk, berwatak lemah, berjiwa feodal setuju pembangunan masyarakat membuat menjadi cerdas, berpenghasilan layak dan bahagia.

 

 Kata kunci : watak, munafik, feodal.

Full Text:

PDF

References


Daftar Pustaka

BPS.(2010). Statistik Indonesia. Jakarta: Badan Pusat Statistik.

Koentjaraningrat. (2015). Pengantar Ilmu Anthropologi. Jakarta : Rineka Cipta

Lubis, Mochtar. (2001). Manusia Indonesia Sebuah Pertanggung Jawaban. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia.

Lemhanas. (1997). Wawasan Nusatara. Jakarta : Kerjasama Penerbitan PT. Balai Pustaka dan Lemhanas.

______. (1998). Wawasan Kebangsaan Menuju Indonesia Baru. Jakarta : PT. Gramedia Widiasarana Indonesia.

______. Kewiraan Untuk Mahasiswa. Jakarta : Kerjasama PenerbitanDirektorat Jenderal Pendidikan Tinggi Depdikbud dan PT. Gramedia Pustaka Utama.

Moleong, J Lexy. (2007). Metode Penelitian Kualitatif Edisi Revisi. Bandung : Remaja Rosdakarya.

Pusat Bahasa Indonesia. (2008). Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta : Departemen Pendidikan Nasional.

Ridhuan. Syamsu. (2016). Cerdas Bela Negara : Pendidikan Kewarganegaraan dan Pancasila. Jakarta : NFA.

______. (2015). Pokok-Pokok Pikiran Kebijakan Nasional Pencerdasan Bela Negara. Makalah disajikan dihadapan Direktur Bela Negaradan Staf Terkait Ditjen Potensi Pertahanan Kementerian Pertahanan Republik Indonesia. Jakarta. 9 Juli 2105.

Sugiyono. (2013). Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitif dan R&D. Bandung : Alfabeta

Syarbaini. Syahrial dan Wahid. Aliaras. (2015). Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. Jakarta : PAMU Universitas Esa Unggul.

Internet. (2017). www.lensaterkini.web.id (14-02-2017)


Refbacks

  • There are currently no refbacks.