Menurunkan Cacat Pada Produksi TV Dengan Menggunakan Metode Six Sigma Di PT. LG Electronics Indonesia

Sachbudi Abbas Ras, Aripin Aripin

Sari


Abstrak

Tulisan ini membahas mengenai penggunaan metode Six Sigma di PT LG Electronics Indonesia, dimana konsumen menjadi prioritas utama yang ditandai bahwa semua usaha perbaikan ditentukan oleh pengaruhnya terhadap kepuasan konsumen. Dalam usaha menenuhi kepuasan konsumen, pada awal tahun 2004 pihak QA (Quality Assurance) LG mengambil kebijakan untuk mengurangi defect field claim (kerusakan yang ditemukan di konsumen). Dari data defect field claim produk TV tahun 2003 menunjukkan bahwa defectno power’ yaitu TV tidak menyala adalah yang terbesar. Dari data bagian IQC (Incoming Quality Control) menunjukkan bahwa pada bulan Oktober sampai Desember 2003, komponen elektronika yang menyebabkan ‘no power’ terbesar adalah SMPS Transformer, yaitu sebesar 29%. SMPS Transformer tersebut diproduksi di PT. SAMWHA Indonesia Purwakarta. Oleh karena itu, untuk menurunkan cacat “no power” diberlakukan metode “six sigma” pada proses produksi komponen SMPS Transformer. Sigma level SMPS Transformer PT. Samwha pada waktu sebelum perbaikan berada pada level 4,64 s, yang berarti perlu adanya usaha-usaha perbaikan untuk mencapai level 6 s. Setelah perbaikan dengan Six Sigma, didapatkan sigma level 5,97 s. Cost saving yang dihasilkan adalah sebesar $ 29,000 per tahun (untuk LG sebesar $ 9,000 per tahun dan untuk Samwha sebesar $ 20,000 per tahun).

Kata Kunci: Six Sigma, no power, SMPS Transformer


Teks Lengkap:

PDF

Referensi


Daftar Pustaka

Mitra, Amitava, “Fundamentals of Quality Control and Impro-vement”, MacMillan Publishing Company, 1993.

Montgomery, D.C., “Design and Analysis of Experiment, 5th Edition”, John Wiley & Sons, Inc, 2001.

Pande, P.S, “The Six Sigma Way”, Edisi Bahasa Indonesia, Andi, Yogyakarta, 2003.


Refbacks

  • Saat ini tidak ada refbacks.


VISIT COUNTER:

gerEGGe